Kisah Maria Walanda Maramis dalam Menegakkan Pendidikan dan Kesetaraan di Minahasa

Maria Walanda Maramis/istimewa

PROGRES BENTENG– Wanita memiliki peran penting dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selain itu, sejumlah pahlawan nasional wanita Indonesia juga kerap berperan untuk emansipasi perempuan Indonesia.

Maria Walanda Maramis

Walanda Maramis, seorang wanita asal Minahasa, dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita di Minahasa. Maria Josephine Catherine Maramis, nama lengkapnya, lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Minahasa Utara, Kecamatan Kema (hasil pemekaran Kecamatan Kauditan) Provinsi Sulawesi Utara.

Maria adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, dengan ayahnya, Alexander Andries Maramis, yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan menjabat sebagai menteri dan duta besar dalam pemerintahan Indonesia.

Kakak perempuannya bernama Antje, sementara kakak laki-lakinya bernama Andries. Maria menjadi yatim piatu pada usia enam tahun karena kedua orang tuanya jatuh sakit dan meninggal dunia.

Paman Maria, Mayor Ezau Rotinsulu, yang saat itu menjadi kepala distrik di Maumbi, membawa Maramis dan saudara-saudaranya ke Maumbi untuk dibesarkan.

Selama di sana, Maramis berteman dengan kalangan terpelajar, termasuk seorang pendeta bernama Jan Ten Hoeve.

Maramis dan kakak perempuannya juga masuk ke Sekolah Melayu di Maumbi, satu-satunya pendidikan resmi yang mereka terima.

Meskipun mengajarkan ilmu dasar seperti membaca dan menulis, serta sedikit ilmu pengetahuan dan sejarah, ini adalah langkah pertama Maria menuju kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Kejadian di Minahasa menjadi dorongan awal bagi Maria Walanda untuk memperjuangkan nasib kaum perempuan. Dia mulai dengan mempelajari bahasa Belanda.

Meskipun tidak melanjutkan pendidikan tinggi, cita-citanya untuk meningkatkan status perempuan Minahasa tumbuh melalui pergaulannya yang luas.

Menurut Edi Warsidi dalam “Meneladani Kepahlawanan Kaum Wanita” (2007: 19), Maria ingin memajukan perempuan Minahasa, meskipun harus melanggar tradisi. Bagi Maria, perempuan harus mendapatkan pendidikan yang cukup.

Pada tahun 1890, saat berusia 18 tahun, Maria menikah dengan seorang guru sekolah dasar di Manado bernama Yoseph Frederik Calusung Walanda.

Setelah menikah, Maria mulai mewujudkan cita-citanya untuk memajukan perempuan. Dia menyampaikan pikirannya melalui tulisan yang dikirimkan ke surat kabar Tjahaja Siang, pionir surat kabar di Sulawesi Utara.

Dalam tulisannya, Maria menjelaskan pentingnya pendidikan yang lebih baik bagi perempuan agar mereka dapat menjadi istri dan ibu yang lebih baik untuk keluarga.

M. Junaedi Al Anshori dalam “Sejarah Nasional Indonesia: Masa Prasejarah Sampai Masa Proklamasi Kemerdekaan” (2011: 108) mencatat bahwa pada 8 Juli 1917, Maria dan beberapa rekan pendiri mendirikan organisasi yang disebut Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT).

Organisasi ini, didukung oleh suaminya dan beberapa tokoh cendekiawan lainnya, awalnya bertujuan untuk berbagi pengalaman dan membahas berbagai masalah pendidikan anak. Namun, Maria memiliki visi lebih luas untuk memajukan kaum perempuan di Minahasa.

PIKAT yang digagas oleh Maria berkembang pesat dan memiliki banyak cabang hingga ke Kalimantan dan Jawa. Setelah tahun 1920, jumlah perkumpulan perempuan semakin bertambah.

PIKAT juga mendorong kesadaran kaum perempuan di Minahasa dan Sulawesi pada umumnya untuk berorganisasi. Sejumlah cabang PIKAT terbentuk di Minahasa, seperti di Maumbi, Tondano, dan Motoling, serta di luar Minahasa, seperti di Sangir Talaut (Sangihe-Talaud), Poso, Gorontalo, dan Ujung Pandang.

Cabang-cabang PIKAT di Jawa juga terbentuk di kota-kota seperti Batavia, Bogor, Bandung, Cimahi, Magelang, dan Surabaya.

Pada tanggal 2 Juni 1918, PIKAT membuka sekolah di Manado, mengajarkan keterampilan rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi, dan pekerjaan tangan.

PIKAT juga mendirikan sekolah Huishound School Pikat untuk anak perempuan tanpa biaya. Maria juga mendirikan Sekolah Kejuruan Putri lengkap dengan asramanya. Maramis tetap aktif dalam PIKAT sampai meninggal pada 22 April 1924.

Sebagai penghargaan atas perannya dalam pengembangan perempuan di Indonesia, Maria Walanda Maramis dianugerahi gelar Pahlawan Pergerakan Nasional oleh pemerintah Indonesia pada 20 Mei 1969.

Komentar Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *