Unik, Begini Tradisi Lebaran Ketupat di 2 Desa di Bengkulu Tengah

Juni 12, 2019
Featured Seni dan Budaya 0   255 views 0
Lebaran Ketupat

Lebaran Ketupat, tradisi makan bersama di masjid (Foto: Hendry Dunan/PROGRES BENTENG)

PROGRES.ID, BENTENG – Sebagai bentuk syukur telah mampu menunaikan ibadah selama Bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, warga 2 desa di Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng), mengadakan tradisi Syawalan atau Lebaran Ketupat. Tradisi ini juga sebagai bentuk kebersamaan dan saling berbagi kepada warga yang tidak bisa merasakan makan ketupat di hari raya Idul Fitri lalu.

Sejak Selasa pagi (12/6/2019) warga Dusun Pekalongan Desa Panca Mukti Kecamatan Pondok Kepala Kabupaten Benteng berbondong-bondong datang ke masjid setempat. Mereka membawa ketupat lengkap dengan lauknya.  Ketupat yang dibawa oleh warga, lalu dikumpulkan di dalam masjid. Usai bersalawat dan memanjatkan doa,  ketupat yang dibawa oleh warga kemudian disajikan untuk disantap bersama-sama.

Salah seorang warga Maisaro mengatakan, momen ini merupakan saat yang dinanti-nanti untuk saling silahturahmi sekaligus saat yang tepat untuk makan bersama.

“Saya sendiri bawa gulai tiga macam untuk kami makan bersama, pokoknya dalam setahun ada tiga kali kami seperti ini, pas hari raya Lebaran, Lebaran Haji (Idul Adha) dan Lebaran Ketupat,” ungkap Maisaro.

Tradisi Syawalan atau Lebaran Ketupat ini digelar seminggu atau 10 hari usai hari raya Idul Fitri atau biasa disebut juga lebaran kedua bagi warga yang melaksanakan puasa pada bulan Syawal.

“Memang tradisi ini sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang kami dan memang harus kita lestarikan. Banyak sekali hikmah yang terkandung didalamnya seperti kebersamaan antarsesama, mudahan-mudahan ini bisa terus dipertahankan sampai anak cucu kita,” ungkap imam masjid Dusun Pekalongan Desa Panca Mukti Mifitul Umam.

Tradisi ini, telah dilaksanakan secara turun temurun oleh warga di 2 desa yang ada dalam Kecamatan Pondok Kelapa, yakni Desa Pulau Beringin dan Desa Panca Mukti yang mayoritas keturunan Suku Jawa. Tradisi ini sendiri sempat menghilang beberapa tahun dan baru dihidupkan kembali sejak 6 tahun terakhir.(hdn)

Komentar Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *