Meski Hidup Miskin dan Lumpuh, Kakek Ini Tetap Semangat Bekerja Membuat Tangkai Cangkul

46
Keluarga alamsari
Alamsari dan Wiliati dan anaknya yang lumpuh sejak bayi | Foto: Hendry/PROGRES BENTENG

Melihat Salah Satu Potret Kemiskinan di Benteng

Oleh: Hendry Dunan

Jika Anda melintas di area persawahan Desa Penanding Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng), selain akan melihat hamparan persawahan, Anda akan menjumpai rumah dengan ukuran 6X4 M. Rumah itu berdinding Papan.
Di dalam rumah mungil itu hidup sebuah keluarga, suami istri dan lima anak. Itulah kediaman Alamsari (68 Tahun) yang hidup jauh dari mewah. Tak terlihat ada perabotan mewah menghiasi rumah mereka. Bahkan, Alamsari yang sudah rentah itu mengaku tidak dapat bekerja keras sejak enam tahun terakhir. Ia menderita kelumpuhan dan memaksanya harus berjalan menggunakan tongkat.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, Alamsari mengumpulkan kayu yang bisa dimanfaatkan untuk membuat tangkai cangkul.
“Sejak saya lumpuh saya hanya bisa bekerja di rumah membuat tangkai cangkul. Tangkai cangkul ini saya jual ke toko-toko bangunan seharga Rp 7 Ribu untuk satu tangkai. Kalau tidak ada kayu, ya saya tidak dapat uang, jadi terkadang kami tidak makan,” ungkap Alamsari menceritakan kisah hidupnya.
Masih beruntung Alamsari memiliki istri yang dapat membantunya untuk mencari nafkah. Adalah Waliati (60 Tahun) yang bekerja sebagai pengepul batubara di sungai. Dengan pekerjaan itu, Waliati bisa membantu menyambung hidup keluarganya.
Sayangnya, saat ini Waliati harus berhenti dari pekerjaan itu, karena perusahaan batubara tempat ia bisa mendapat uang berhenti operasi karena izin yang tak diberikan pemerintah. Meski demikian, Waliati tak putus asa, ia mulai mengumpulkan buah sawit yang tercecer usai dipanen. Tapi, tetap saja cara itu tak mampu mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.
“Saya tetap nyari kerja lain, kalau tidak kerja dari mana kami mau makan, meski sudah bekerja sekuat tenaga seperti ini, kami tetap saja tidak mampu untuk membeli beras, kalau pun ada beras itu terpaksa dibagi untuk makan 2 kali sehari,” jelas Waliati.
Alamsari sedang bekerja
Tampak alamsari sedang bekerja membuat gagang cangkul di depan rumahnya | Foto: Hendry/PROGRES BENTENG

Alamsari dan Waliati sebenarnya memiliki delapan orang anak, namun tiga orang sudah menikah. Tinggal lima orang lagiĀ  masih menjadi tanggungan mereka. Empat diantaranya masih sekolah, sementara yang satunya tidak dapat sekolah lagi, karena menderita lumpuh pada kedua kakinya.

Namanya, Hartati (20 Tahun). Ia menderita lumpuh sejak lahir, keseharian gadis ini hanya bisa duduk diam di rumah. Upaya pengobatan tidak pernah dirasakannya karena keterbatasan kedua orang tuanya. Selain hanya bisa berdoa, Hartati mengaku pasrah dengan kondisi yang dia alami saat ini.
Mirisnya, sejauh ini tidak ada sedikitpun perhatian yang diterima keluarga ini. Bantuan yang biasa mereka dengar dari pemerintah tidak pernah mampir ke rumah mereka, baik itu bantuan bedah rumah maupun bantuan kesehatan lainnya. Keluarga ini hanya berharap melalui karya para jurnalis, kisahnya dapat didengar dan sedikit mendapat perhatian serta bantuan dari Pemerintah Kabupaten benteng maupun Pemprov Bengkulu.
Komentar Facebook

LEAVE A REPLY