Cerita Bocah Putus Sekolah, Bantu Ayah Servis & Berharap Janji Gubernur

258
Izalman dan ayahnya
Izalman dan ayahnya menunggu pelanggan servis elektronik di kediamannya | Foto: Hendry/PROGRES BENTENG

Oleh Hendry D

Setiap hari Muhammad Izalman Saputra selalu memandangi obeng, mur dan baut. Ia selalu tanggap saat diminta ayahnya mengambil ini dan itu untuk keperluan perbaikan alat-alat elektronik. Rutinitas seperti itu sudah dilakukan anak berusia 14 tahun ini sejak ia putus sekolah beberapa tahun lalu.

Di rumahnya di Desa Sidodadi Kecamatan Pondok Kelapa yang berlantai tanah itu, Izalman juga belajar bagaimana memperbaiki alat-alat elektronik seperti, speaker, kipas angin, tape dan lainnya. Izalman terpaksa melakukan rutinitas demikian karena kedua orang tuanya Adil Haryanto dan Liti Marlena tak lagi mampu membayar pendidikannya di sekolah.

Izalman dan ayahnya
Izalman dan ayahnya menunggu pelanggan servis elektronik di kediamannya | Foto: Hendry/PROGRES BENTENG

Ayahnya memang berprofesi sebagai tukang servis elektronik. Dari pekerjaan itu, Adil Haryanto memang kesulitan menyisihkan uangnya untuk pendidikan anaknya. Uang yang didapat dari servis elektronik hanya mampu untuk menyambung hidupnya dan keluarganya sehari-hari.

Keinginan untuk kembali mengenyam pendidikan formal, masih kuat terbersit dibenak anak yang sedang menginjak masa remaja ini, namun apa daya keterbatasan biaya membuat harapan itu sirna. Ia berharap ada uluran tangan dermawan atau pemerintah yang dapat membawanya kembali memegang pena dan buku.

“Saya cuma bisa bantu bapak saya karena sekolah sudah 2 tahun saya berhenti, saya hanya bisa berharap bisa kembali ke sekolah,” keluh saat ditemui jurnalis PROGRES BENTENG, Jumat (13/1/2017).

Secarik kertas berisikan janji kampanye pemimpin provinsi ini, masih tersimpan rapi dan terus dipandangi Adil Haryanto dengan penuh harap. Janji membangun pendidikan bermutu hingga pelosok desa, dan untaian kalimat berjudul ‘Bengkulu Cerdas’. Rakyat Bengkulu harus cerdas, tidak boleh ada yang tidak sekolah hanya karena tidak ada biaya. Seakan masih menjadi tanda tanya, bagi Adil Haryanto yang tidak mampu membiayai sekolah anaknya tersebut.

“Sudah tidak ada yang bisa saya perbuat, usaha saya juga pas-pasan hanya untuk menghidupi keluarga saya. Semoga saja janji pak gubernur semasa kampanye bisa terwujud untuk anak saya,” kata Adil.

Sementara itu, Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang dimiliki Izalman tidak dapat digunakan karena telah putus sekolah. Si anak miskin yang memiliki cita-cita sebagai teknisi di Perusahaan Listrik Negara (PLN) ini berharap Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti dapat mendengar curahan hatinya.

Selain Izalman, anak pertama dari Adil Haryanto, Siska Lidiarti yang sebelumnya telah mengikuti ujian paket c saat ini juga tidak dapat melihat ataupun menggunakan ijazahnya. Mirisnya, untuk mendapatkan ijazah paket c tersebut, Siska diharuskan menebus ijazah sebesar Rp 1,5 Juta. Hingga kini ijazah siska belum diterimanya. Sejauh ini belum ada kepedulian dari Pemerintah Kabupaten Benteng.(**)

Komentar Facebook

LEAVE A REPLY