Pasal Tabat Picu Keributan di Desa Pagar Jati & Kertapati

405
ilustrasi tapal batas
Ilustrasi | Istimewa

PROGRES.ID, BENTENG – Warga dua desa di Kecamatan Pagar Jati, yakni Desa Pagar Jati dan Desa Kertapati nyaris bentrok. Pasalnya, pemerintah desa (Pemdes) Pagar Jati mau pun Kertapati saling mengklaim batas wilayah desanya berdasarkan versi mereka masing-masing.

Mantan kepala desa (kades) Pagar Jati,  Jun Heri menuturkan bahwa tapal batas (tabat) kedua desa telah disepakati dan tak pernah bermasalah. Namun, setelah adanya pergantian kades di Desa Kertapati, masalah itu pun muncul.

“Sejak dulu tak pernah bermasalah, tapi sejak kades baru yaitu si Ferry semua jadi bermasalah. Ferry adalah pemicunya, karena dia memerintahkan memasang gapura HUT Kemerdekaan ke 71 jauh dari batas wilayahnya. Dia juga mengklaim tabat desa mereka benar di sana,” jelas Jun Heri.

Ia menceritakan, tabat dua desa bahkan tak pernah bermasalah sejak 1984. “Sudah lebih 30 tahun sejak 1984 tabat ini tak pernah bermasalah, tapi kini tepat di tabat ada bangunan balai desa. Ini jelas memicu kontroversi,” jelas Heri.

Kedua Pemdes dan tokoh masyarakat telah dijadwalkan melakukan mediasi yang ditengahi Pemkab Benteng.

“Saya harus datang dalam mediasi ini, karena saya juga bertanggung jawab dalam mempertahankan batas wilayah desa kami, saya dan kades juga membawa saksi hidup dan dokumen lainnya yang nanti akan membuktikan jika tabat yang kami klaim benar,” ungkap Heri.

Sementara itu, Kades Kertapati, Ferry mengaku akan menyerahkan sepenuhnya kepada Pemkab untuk penuntasan masalah tabat.

“Ini kan belum jelas, saya hadir juga berdasarkan undangan, jadi masalah tabat saya juga tidak mempermasalahkannya, apa pun keputusannya nanti,” kata Ferry.

Sebelumnya, warga dari dua desa ini nyaris saja bentrok. Beruntung, pemuka desa mengambil jalan tengah dengan melakukan medias yang difasilitasi Pemkab Benteng. (hdn)
Komentar Facebook

LEAVE A REPLY